Friday, February 15, 2013

Kenapa Harus Filsafat?

Yeay ini blog kedua sayaaa ! (yang pertama uda lumutan) uumm bingung apa ya yang mau saya post pertama kali disini. Mungkin sekedar berbagi, bagaimana ceritanya saya bisa tersesat di Filsafat UI.

Ketika saat-saat menjelang masa akhir duduk dibangku SMA, ketika semua teman-teman saya sedang bingung akan melanjutkan ke universitas mana dan jurusan apa? saya meminjam sebuah buku (saya lupa buku apa itu) yang isinya mengenai universitas beserta informasi jurusan-jurusannya. Saya buka pada bagian Universitas Indonesia, dan niat awal saya adalah ingin mengambil jurusan kriminologi, tetapi saya melihat jurusan yang asing, yaitu Ilmu Filsafat, saya baca kriterianya dan saya bingung, tapi justru kebingungan itulah yang menarik saya dalam rasa penasaran dan ingin mencobanya. 

Saya masih ingat, pada saat itu yang ada dipikiran saya adalah Filsafat itu apa ya? saya sering melihat dan mendengarnya dimana-mana tapi itu apa ya? Misalnya dalam buku-buku, sebutlah pelajaran agama yang sering menyebut-nyebut kata filsafat. Seperti "agama merupakan falsafah kehidupan karena blablabla", ataupun dalam seni ketika guru saya menjelaskan sebuah gambar "..jadi filosofi dari gambar ini adalah blablabla". Dari situ saya merasa sepertinya filsafat ada dimana-mana tapi siapa dia sebenarnya.

Rasa penasaran itulah yang akhirnya membuat saya menulis Ilmu filsafat di urutan pertama dalam Formulir SNMPTN Undangan, dan saya tidak menyangka saya terpilih. Setelah saya masuk dan bercinta dengan filsafat, saya sadar ternyata saya telah tersesat dijalan yang benar. Dan orang-orang yang tidak tahu apa itu filsafat adalah orang-orang yang tidak menghargai sejarah, kita adalah kacang yang lupa kulitnya, bagaikan anak yang durhaka kepada ibunya. Karena Filsafat ternyata adalah "Mother of Science". Sejak saat itu saya sadar bahwa keasingan yang muncul ketika saya melirik ke jurusan filsafat dalam buku tersebut, dikarenakan sempitnya pengetahuan saya. Dan orang-orang disekitar (yang sebenarnya tidak tahu apa-apa) malah memandang sebelah mata filsafat sebagai "komunitas atheis". Seharusnya Filsafat dipelajari sejak dibangku sekolah agar anak bangsa lebih open-minded dalam mengkritisi dogma-dogma di masyarakat yang terlalu terkungkung oleh institusi agama dan supaya tidak berburuk sangka pada si ibu filsafat yang sebenarnya telah berjasa dalam melahirkan peradaban sehingga bisa sampai seperti sekarang ini.